Dari situ... tiba-tiba kalian jadi bagian hidup.
Things I do to remember how days pass by: I talk, I take photos, I write.
20240624
BFC, 911-ku
Dari situ... tiba-tiba kalian jadi bagian hidup.
20240622
Akhirnya Tiba Saatnya...
Mowi lulus TK. It is very true when people say the days are long but the years are short. Tanpa sadar, 2 tahun berlalu begitu saja, rasanya sekejap meski nyatanya ada sekitar 700 hari yang terlewati. Perjalanan kami di sekolah pertama Mowi (iya, kami, karena nyatanya seluruh elemen keluarga ikut berproses selama Mowi sekolah) rasanya nano-nano. Mainly excited and proud, karena ada banyak sekali lompatan dan milestones Mowi yang tidak disangka-sangka... dari anak yang nangis tiap hari selama 2 minggu awal sekolah jadi anak yang berani berbicara di depan umum, dapat diandalkan dan bertanggung jawab.
Rasanya terharu, gitu.
Tapi tulisan ini bukan tentang Mowi, meski ada hubungannya dengan Mowi (lho, gimana?). Tulisan ini kubuat awalnya hanya di notes hp, di hari ketika emosiku meluap-luap.. tapi terus kuingat ada blog ini yaudah kupindahkan lah isi kepala dan emosiku ke sini untuk menjadi jejak digital agar bisa terus kubaca ulang setiap merasa rindu (caelah).
Dulu, waktu awal Mowi sekolah, aku sempat merasa aku nggak akan bisa aktif bersosialisasi sama ortu siswa lain karena aku harus kerja. Rasanya nggak akan sempet, gitu lho. Kuputuskan aku akan jadi ortu siswa yang netral, tidak terlalu aktif untuk jadi korlas atau apa gitu tapi tidak terlalu pasif sampai silent reader di grup. B aja, lah nggak usah heboh baru juga TK, begitu pikirku 2 tahun lalu.
BORO-BORO, SHAY!
Ternyata bukan cuma Mowi yang punya teman baru di sekolah ini, aku juga punya teman baru. Teman baruku ya ortu teman-teman sekelas Mowi, hehehe. Orang-orang yang awalnya kuniatkan berteman sambil lalu (yekaan, niatnya mau jadi ortu B aja kan...) ternyata malah jadi orang yang kutangisi karena harus berpisah. Semua terasa berat, setelah menjalani 2 tahun dengan banyak cerita.
Tahu rasanya kalau nahan nangis?
Rasanya ada gumpalan besar di ujung tenggorokan, menahan suara dan napas untuk keluar karena kalau ada satuuuu saja suara atau napas terhembus, gumpalan itu hilang tapi terus nangis.
Itu yang dua bulan terakhir aku rasakan, setiap kali membayangkan kelulusan Mowi dari TK ini.
Bayangan akan perpisahan selalu memunculkan gumpalan besar itu, rasa sedih itu, semata-mata karena aku tahu setelah kelulusan, aku akan berpisah dengan teman-temanku karena anak-anak kami beda sekolah. Sesederhana itu, tapi buatku sungguh sangat kompleks.
Tidak mudah menerima kenyataan bahwa orang-orang yang selama 2 tahun ini kujadikan sandaran, tempat diskusi, tempat gosip, tempat curhat, akan hilang dari rutinitas sehari-hariku. Berat menerima bahwa mungkin nanti hanya aku yang akan merasa kangen, tapi perubahan dan perkembangan kehidupan membatasi atau bisa jadi menjauhkan. Pedih membayangkan aku tidak bisa langsung melempar isu untuk ngobrol atau gosip dan dijawab dengan instan langsung nyambung karena kami ada dalam satu kolam yang sama.
Hufff segalanya terasa overwhelming sampai aku merasa malu sendiri kenapa aku bisa sebegininya merasa sedih hahahaha...
Tapi rasa sedih itu nyata, rasa sedih itu valid.
Mari kita tuangkan...
Permisi...
Iyaaaaaaaaaa terakhir nulis di sini 5 tahun lalu.
Aku butuh meluapkan emosi dulu, ehehehe
20190110
Hehe
Mowi sudah setahun!
Waw tidak terasa ya... Buntelan cilokku yang dulu nggak bisa apa-apa sekarang udah bisa marah-marah dan akting nangis. Alhamdulillah...
Checking in first, for now.
20180319
Hai Aku Kembali Lagi!
20171019
USG 4D @ Brawijaya Clinic Bandung
20171013
So-Called Babymoon at Blackbird Hotel
![]() |
| Begini nasib foto self-timer, blur, Kak :( |
20171006
Kopi Darat
20170927
Aku dan Distraksiku
20170911
Wahai Para Pejuang LDM
20170904
Nyupir Selama Hamil
20170829
Trimester 2: Bye Hamil Artis
20170822
Trimester 2
| 16 weeks to go! |
20170717
The First Kick
20170710
Ketidakmengertian
Di suatu pertigaan daerah Parakan Saat, aku siap belok kiri dan jalanan depanku kosong. Tiba-tiba, sekonyong-konyong, ada ibu-ibu nyelonong masuk dari arah berlawanan. Refleks aku rem. Pas ibu itu kaget juga lihat Menel, dia refleks rem sedikit dan itu bikin motor dia sedikit oleng. Sedetik aja sih olengnya, dia lalu nyupir lagi dengan santai. Aku kaget, ngomel (pastinyaaaaaa), dan geleng-geleng kepala karena ibu itu bawa motor bonceng 2 anaknya umur SD plus banyak barang lainnya. Nggilani. Bukan masalah dia naik motor bertiga atau bawa barang banyak, karena kadang itu adalah mode transportasi yang bisa dinaiki kan nggak ada pilihan lain, misalkan, meskipun itu berbahaya banget. Tapiiiiii, aku mikir apakah keadaan bisa mengubah seorang ibu jadi lebih nggak peduli sama keselamatan anak-anaknya?
Oke lah, ada faktor efisiensi mobilisasi, dia naik motor bertiga gitu sekali angkut, ringkes. Tapi mbok yaaaaa nyupir motornya rada betul, gitu. Pakai helm, kek, semuanya. Jangan ibunya doang. Antre, gitu. Sabar, nggak usah sok-sok nyalip ambil jalur lawan tapi terus kaget sendiri....
Aku suka nggak ngerti sama yang kayak gini sih.. membahayakan diri banget dan aku adalah orang yang live by the book alias gila aturan, jadi makin gedek rasanya hahahaha aku akhirnya tadi nyupir sampai kantor sambil geleng-geleng kepala dan doa semoga aku selalu dilindungi Allah kemanapun aku pergi, dan aku bisa tumbuh jadi orangtua yang peduli sama keselamatan. Mau itu keselamatan diri sendiri, keluarga, anak-anak dan orang-orang di sekelilingku. Ideal banget, yas, kalau ditekan keadaan gimana? In sya Allah, aku pengennya sih aku bisa berpegang pada prinsip dan aku yakin Allah selalu ada di setiap titik kehidupanku. Aamiin.
Stay safe, guys!
20170707
Serba Pertama Kali
20170414
Cari Obgyn
20170412
Akankah???
Ketemenehe....
Sekarang bikin draftnya aja dulu ekekekekek
